Pelaksanaan Pemilu 2009 Tidak boleh Ditunda

Senin, 23 Maret 2009, 16:30

Pelaksanaan Pemilu 2009 Tidak boleh Ditunda

Sahabat MQ, meski diwarnai banyak permasalahan pelaksanaan pemilihan umum 2009 tidak boleh dituda. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah –Din Syamsudin- menanggapi maraknya usulan sejumlah pihak untuk ditundanya pemilu usai kasus DPT di Jawa Timur menegaskan, penundaan pelaksanaan pemilu tidak menjamin persiapan akan semakin baik. Untuk itu menurut Din, yang dapat dilakukan Komisi Pemilihan Umum saat ini adalah mengerahkan dan memaksimalkan segala daya upaya di waktu yang tersisa, dan tetap menjalankan pemilu 2009 sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.
--
Sementara itu berkaitan dengan prediksi sejumlah lembaga penelitian yang menyatakan bila perolehan suara partai Islam akan merosot tahun ini,  Din menyatakan sependapat dengan hasil penelitian tersebut. Menurut Din, Prestasi perolehan suara partai Islam tertinggi hanya terjadi di tahun 1955, dimana pada saat itu partai Masyumi berhasil meraup dukungan 43,2 persen suara. Dan hingga 2 periode pemilihan umum berikutnya, suara partai Islam tidak pernah mengalami kenaikan yang signifikan. Kalaupun terdapat pertambahan suara, hal tersebut lebih dikarenakan saling mengambil suara pendukung antar sesama partai Islam. Untuk itu Din menghimbau kepada seluruh partai islam dan partai berbasis massa islam untuk merenung, juga duduk bersama membangun koalisi strategis dan bersepakat terhadap permasalahan-permasalahan kebangsaan, sebelum kemudian berkoalisi dengan partai lain. Din menegaskan seperti dilaporkan reporter MQ FM –Tisha Aulia-, tanpa langkah ini, partai-partai Islam hanya akan menjadi pelengkap dalam pesta demokrasi. Tisha Aulia


Masjid Raya Al-Muttaqun Prambanan, Diresmikan














Jum'at, 13 Maret 2009, 17:00

Masjid Raya Al-Muttaqun Prambanan, Diresmikan

Sahabat MQ, hari ini (13/3) masjid Raya Al-Muttaqun yang terletak di Jalan Jogja-Solo Timur Tugu Perbatasan DIY, diresmikan. Peresmian dilakukan dengan penandatanganan prasasti oleh Menteri Dalam Negeri Mardiyanto, Ketua MPR RI yang sekaligus sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan DR. Hidayat Nur Wahid, serta perwakilan Kementrian Islam Wakaf Qatar, Ali Bin Sulthan Al Musaifiri. Dalam sambutannya Mendagri Mardiyanto mengatakan, konsep masjid bukan sekedar sebagai tempat sholat saja, melainkan juga sebagai pusat kegiatan masyarakat. "Masjid harus menjadi sarana syi'ar Islam, menjaga persatuan dan kesatuan serta kerukunan umat Islam dan antar umat beragama. Masjid juga merupakan sarana pembinaan mental dan spiritual untuk menciptakan manusia yang bermartabat dan berbudi mulia", tegas Mardiyanto.

--
Harapan senada juga diungkap Ketua Yayasan Masjid Al-Muttaqun -Abdul Hakim-. Pihaknya berharap, masjid dan Islamic Centre ini dapat menjadi masjid seluruh umat Islam. "Masjid dan Islamic Centre Asy-Syaikh Jasim Bin Muhammad Alitsani ini, semoga mampu membawa manfaat dan kemaslahatan bagi seluruh umat Islam, khususnya di Prambanan Raya", ungkap Abdul Hakim.

--
Masjid Al-Muttaqun sendiri sebelumnya rusak dalam peristiwa gempa Jogja-Jateng 2006 silam. Pembangunan masjid ini kemudian dimulai di tahun 2007, atas prakarsa Presiden Susilo bambang Yudhoyono. Masjid yang pembangunannya menelan biaya sebesar Rp. 12 M tersebut dibangun di atas tanah kas desa, ditambah bangunan lagi di sisi timur melalui pembebasan tanah, yang kemudian difungsikan sebagai gedung serba guna. Pendanaan bersumber dari presiden SBY sebesar 1 M, beberapa tokoh, serta Menteri Urusan Wakaf dan Islam negara Qatar sebesar 9,5 M. Sejumlah kegiatan juga telah dilaksanakan oleh pengelola masjid, diantaranya adalah kegiatan TPA, pengajian rutin Ahad setiap pagi, khitanan massal, serta peringatan hari besar agama Islam. Tisha Aulia

Pemilu 2009 sebagai Rotasi Akhir Elit Politik Generasi '40-an


Jum'at, 13 Maret 2009, 12:20

Pemilu 2009 sebagai Rotasi Akhir Elit Politik Generasi '40-an

Pemilu 2009 sering disebut sebagai rotasi paling akhir  dari elit politik generasi tahun '40-an. Pengamat Politik UGM -Sigit Pamungkas mengatakan, generasi tersebut antara lain Sri Sultan hamangkubuwo X, Akbar Tanjung, Megawati, SBY, Jusuf Kalla, serta Prabowo. Sigit mempredikisi, tokoh-tokoh tersebut tidak mungkin lagi berkompetisi pada Pemilu 2014 mendatang. Dalam diskusi panel ‘Satu Suara Berjuta makna’ di UGM Sigit mengungkapkan/ sebagai proses politik, pemilu merupakan proses untuk menuju perubahan. Untuk itu masyarakat sebagai pemilih hendaknya memilih calon pemimpin yang dapat membawa perubahan bagi masyarakat Indonesia. Terkait hal tersebut seperti dilaporkan reporter MQFM-Tria Haidar -Sigit menambahkan, golput bukan pilihan yang tepat untuk saat ini. Gerakan Golput, dipastikan tidak akan mempu membawa perubahan yang diharapkan. Tria Haidar

Banyak Caleg Tidak Memahami Cara Penandaan Surat Suara

Banyak Caleg Tidak Memahami Cara Penandaan Surat Suara
Sahabat MQ, meski cara penandaan surat suara telah disosialisasikan KPU melalui media masa,  namun kenyataannya banyak calon legislatif yang belum memahaminya. Hal tersebut terbukti dengan banyaknya pertanyaan, terkait cara penandaan surat suara yang sah dari para caleg kepada anggota KPU Sleman, dalam sosialisasi dengan Dapil 1 di KPUD Sleman. Divisi Sosialisasi Pendidikan Pemilih dan Humas KPUD Sleman -Miswan menjelaskan, adanya perubahan peraturan tentang tatacara dan perhitungan suara pada tahun ini menyebabkan caleg bingung untuk mensosialisasikan ke masyarakat. Sementara berkenaan dengan adanya Perpu, Miswan menjelaskan bahwa tujuan adanya Perpu adalah mencegah masyarakat tidak gugur dalam Pemilu mendatang. Meski seperti dilaporkan Reporter MQ FM -Tria Haidar- Miswan mengakui, aturan pemilu yang berubah-ubah menyulitkan masyarakat dalam menyuarakan pilihannya pada Pemilu 2009 ini. Tria Haidar



Editorial MQ 92,3 FM Jogjakarta

Editorial MQ 92.3 FM Yogyakarta
Rabu, 11 Maret 2009
“Mengadu” Nyali Caleg Kalangan Bawah
Sahabat MQ, Banyaknya partai politik yang bertarung dalam pemilu nanti, seolah telah membuka peluang ‘pekerjaan baru’ bagi beberapa masyarakat. Diperparah dengan system suara terbanyak, Pemilu 2009 telah dijadikan industri penghasil caleg, lantaran partai politik dikejar dengan syarat pemenuhan jumlah caleg. Perekrutan caleg, terkesan tidak memperhatikan mutu caleg. Asal caleg tersebut mempunyai banyak pendukung, berkemauan tinggi, maka siapapun dapat dicomot partai dan maju melenggang mencalonkan diri sebagai calon anggota legislative. Tak pelak, tidak hanya selebritis, tapi kalangan menengah bawah seperti tukang becak, tukang ojek, mantan petinju, bahkan tukang pijat, yang notabene tidak memiliki pengalaman politik. Dengan pendidikan yang minim, mereka pun berlomba-lomba mewujudkan mimpi berkantor di senayan.
--
Di sisi lain Sahabat MQ, mungkin ini adalah wujud keletihan dari kalangan Grass root, kalangan akar rumput, dalam menantikan perubahan. Ini adalah wujud “pemberontakan”, usai para anggota dewan yang saat ini duduk di parlemen yang ternyata tidak mendengar teriakan mereka. Ini juga bentuk tawaran konkret dari masyarakat yang selama ini tersisihkan kepada para pejabat senayan, yang dinilai tidak mempunyai empati untuk ikut merasakan kesengsaraan mereka selama ini. Perbaikan dan Perubahan, dua jargon ini yang kemudian mereka usung,  setelah sekian lama merindukan perubahan ke arah perbaikan.
--
Atas dasar ‘kesengsaraan’, mereka bertekad “berani” bertarung dengan caleg yang berasal dari menengah keatas, untuk merubah nasib diri mereka juga kawan sependeritaan. Tekad kuat dan kepercayaan diri akan kemenangan yang diperoleh, membuat mereka tidak takut bersaing dengan caleg yang bermodal. Tak perlu memampang wajah dengan ukuran besar dan pose disana-sini. Cukup dengan pamlet, striker dengan wajah borongan para caleg ditambah dengan kedekatan hati kepada para pendukung, caleg-caleg ini terus melaju.
--
Mencalonkan diri menjadi anggota legislative adalah hak warga negara. Namun demikian, butuh waktu panjang dan pengorganisasian yang jelas, untuk dapat mendidik caleg-caleg ini. Disinilah, Parpol dituntut untuk dapat berlaku lebih bijak dan tidak sembarangan. Merekrut dan mengajukan caleg kalangan bawah dengan tidak memperhatikan syarat kualitas caleg, berarti secara tidak langsung telah ancang-ancang menciptakan peluang, kondisi daerah dan bangsa terpuruk. Memasang orang-orang tak berkompeten untuk dipilih pada pemilu mendatang, berarti telah bersiap membuat perjalanan bangsa ini ke depan, semakin tertatih-tatih.
--
Maraknya calon anggota legislative dari kalangan bawah ini, mengundang reaksi dari beragam kalangan. Maklum, moment pemilu sebagai satu sarana untuk memilih para wakil rakyat, tak boleh dijadikan ajang permainan dan coba-coba. Sehingga, kita dituntut untuk tidak sembrono menjalankannya. Mungkin tidak berlebihan memang kegelisahan yang diungkap Pengamat Sosial –Eko Prasetyo- menghadapi fenomena ini. Menghidupi dan memperjuangkan diri mereka sendiri saja mereka kesulitan, apalagi untuk memperjuangkan jutaan kepala masyarakat Indonesia yang ia wakili kelak?. 
--
Bukan hendak meremehkan ataupun menganggap kecil caleg yang berasal dari kalangan bawah. Akan tetapi, berjihad di Senayan memang tak semudah yang dibayangkan. Gelombang godaan disana pun begitu besar. Untuk itulah diperlukan pribadi-pribadi yang berkualitas, untuk dapat menaklukkannya. Dengan menimbang situasi inilah sahabat MQ, masalah syarat kualitas caleg menjadi begitu utama. Semoga saja, pencalegan dalam pemilu bukan sebagai kesempatan mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih layak. Namun, memang karena didasari niat dan tekad ingin menyuarakan dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Untuk para caleg, ingatlah akan beratnya amanah yang akan diemban, juga pertanggung jawaban yang kelak akan dipikul. Wolloohu a’lam bisshowabb (waf, ed.-ta)




Parpol dan Calon Anggota DPD Belum Laporkan tim Pelaksana Kampanye


Rabu, 11 Maret 2009,17:30
Parpol dan Calon Anggota DPD Belum Laporkan tim Pelaksana Kampanye
Sahabat MQ, kendati pelaksanaan kampanye terbuka tinggal 5 hari lagi, namun hingga hari ini belum ada satupun partai politik maupun calon anggota DPD, yang melaporkan Tim Pelaksana Kampanye mereka ke KPU Propinsi DIY. Anggota KPU Propinsi DIY –Nasrulloh- dalam konferensi pers di KPU hari ini (11/3) mengatakan, berdasar Undang-Undang Pemilu dan Peraturan KPU, setiap parpol dan calon anggota DPD harus melaporkan Tim Pelaksana kampanye 3 hari sebelum pelaksanaan Rapat Umum. Hal tersebut penting sebagai bahan data KPU sekaligus bahan informasi bagi public, agar public mengetahui bahwa Tim kampanye benar-benar merupakan bagian dari parpol yang bersangkutan.
--
Nasrulloh berharap seperti dilaporkan Reporter MQ FM -Tria Haidar-, agar parpol dan calon anggota DPD dapat mentaati peraturan yang berlaku. Nasrulloh mengakui, meski aturan ini bersifat mengikat, namun demikian sanksi yang diberikan masih relative ringan. Nasrulloh juga menghimbau agar Parpol dan calon anggota DPD segera mendaftarkan Tim Kampanye mereka, minimal daftar sementara sebelum pelaksanaan kampanye terbuka. Tria haidar

31 Kampung Di Kota Yogyakarta, Kumuh


Rabu, 11 Maret 2009, 17:30
31 Kampung Di Kota Yogyakarta, Kumuh
Sahabat MQ, dari 45 kelurahan yang ada di Yogyakarta, 31 kelurahan diantaranya tergolong perkampungan kumuh. Pemerintah Kota Yogyakarta menyatakan akan membangun sarana public dan perumahan susun, untuk mengatasi permasalahan tersebut. Ketua PUsat kajian dan Permukiman Teknik Arsitektur dan Perencanaan Universitas gadjah Mada Yogyakarta –Budi Prayitno- mengatakan, 14 kelurahan yang tergolong kumuh yang berada dibantaran sungai Gajah Wong, Code dan Winongo yang melintasi Kota Yogyakarta antara lain adalah Kelurahan Bener, Tegalrejo, Notoprajan, Gowongan, Tegal Panggung, Suryatmajan, Brontokusuman, Warung Boto, Rejowinangun, Pandeyan, dan Giwangan, Disusul dengan 4 kelurahan lain di kawasan pinggiran kota, diantaranya adalah Purbayan, Suryodiningratan, dan Giwangan. Wilayah tersebut masih ditambah dengan 10 kelurahan di Pusat Kota, 3 Kelurahan di pinggiran rel, serta 1 kelurahan di dekat pasar, yaitu Kelurahan Keparakan, Kecamatan Mergangsan.
--
Sementara itu Kepala Dinas Pemukiman Prasarana dan Wilayah Kota Yogyakarta –Eko Suryo Maharsono- mengatakan, pembangunan sarana dan prasarana di wilayah perkotaan diprioritaskan untuk kawasan kumuh, guna mengantisipasi jurang perbedaan antara yang miskin dan yang kaya. Dengan demikian, konflik horizontal yang dipicu kesenjangan ekonomi dapat dihindarkan. Reporter MQ FM Izan El Hakim melaporkan, sarana yang harus diprioritaskan saat ini adalah fasilitas MCK yang memadai, termasuk juga fasilitas public lain seperti jalan dan tempat pengolahan air limbah. Izan el Hakim



Puluhan Ribu Warga Yogyakarta Terima Daging Kurban

Rabu, 11 Maret 2009, 16:30
Puluhan Ribu Warga Yogyakarta Terima Daging Kurban
Sahabat MQ, sebanyak 47 ribu keluarga yang tersebar di seluruh Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang meliputi Kota Yogyakarta, Bantul, Sleman, Kulon Progo dan Gunung Kidul, mendapat bantuan daging kurban dari MPC Foundation Australia. Daging kurban tersebut telah sampai di Jakarta pada 18 Januari lalu, kemudian mendapat karantina untuk proses pemeriksaan dan administrasi di Jakarta. Sekitar kurang lebih 150 ton atau 5000 buah daging domba Australia tersebut, dibagikan kepada warga DIY.
--
Di hari terakhir acara pembagian daging kurban yang berlangsung di Lapangan Minggiran Mantrijeron Yoyakarta, Wakil Walikota Yogyakarta –Haryadi Suyuti- mengatakan, meski daging-daging tersebut telah lama disimpan, masyarakat dihimbau untuk tidak khawatir karena daging tersebut layak untuk dikonsumsi dan telah dikemas sangat aman. Reporter MQ FM Izan El Hakim melaporkan, wilayah Kota Yogyakarta sendiri mendapat 15 ton daging dan telah dibagikan kepada sekitar 10 ribu Kepala keluarga dalam 4 hari ini. Izan

Caleg Perlu Jalani Test Seleksi

Rabu, 11 Maret 2009, 15:30
Caleg Perlu Jalani Test Seleksi

Sahabat MQ, menjelang pemilihan calon legislator banyak masyarakat yang hingga saat ini masih bingung dalam menentukan pilihannya. Apalagi, banyak diantara calon yang mengajukan diri, masih diragukan kualitasnya. Rendahnya kualitas caleg ini, diantaranya disebabkan system rekruitmen caleg yang belum memiliki standar kualifikasi yang jelas.
--
Untuk itulah 6 orang dari Forum Guru Besar UGM, menggagas diperlukannya seleksi untuk menentukan kualitas caleg.  Diantara syarat yang ditentukan meliputi integritas moral, pengetahuan yang memadai tentang ke Indonesiaan, kecakapan penalaran, pengetahuan umum, serta kecakapan dan keterampilan teknis legislative. Menurut anggota Forum Guru Besar UGM –Djoko Pitoyo-, para calon legislator harus mampu memenuhi syarat-syarat tersebut. Tanpa dipenuhinya standar tersebut, kualitas caleg di Indonesia akan semakin memprihatinkan. Ditambah, saat ini masyarakat sudah sangat pesimis dengan kondisi perpolitikan Nasional. Masyarakat juga telah bosan dengan ragam janji-janji anggota dewan. Djoko menegaskan, Jika tidak segera dibenahi, kondisi ini akan memicu apatisme politik masyarakat. Izan El Hakim


KPUD Sosialisasikan Rekening Awal dan Jadwal Kampanye Pemilu

Rabu, 11 Maret 2009 14:30
KPUD Sosialisasikan Rekening Awal dan Jadwal Kampanye Pemilu

Sahabat MQ, Komisi Pemilihan umum Daerah Istimewa Yogyakarta, hari ini (11/3) menggelar konferensi pers terkait dengan rekening awal dana kampanye partai politik dan calon anggota DPD, serta Jadwal pelaksanaan kampanye terbuka yang akan dimulai 16 Maret mendatang. Divisi hukum dan hubungan antar lembaga DIY –Nasrulloh- mengatakan, sampai dengan batas akhir masa pelaporan rekening dana kampanye parpol, seluruh parpol dan calon anggota DPD telah melaporkan rekeningnya. Berdasar data KPUD DIY, tiga parpol dengan jumlah dana kampanye terbesar adalah Partai Amanat Nasional dengan jumlah dana 415 juta rupiah, Partai Peduli Rakyat Nasional dengan jumlah dana 324,9 juta rupiah, dan Partai Keadilan Sejahtera dengan jumlah dana 16,6 juta rupiah. Namun demikian, terdapat pula parpol dengan dana yang sangat kecil yaitu 100 ribu rupiah.
--
Sementara itu sahabat MQ, untuk calon anggota DPD, dana terbesar dimiliki oleh –GKR Hemas- dengan jumlah dana 275,9 juta rupiah. Sedang Rekening dana terkecil dimiliki -Tigan Solin, dengan jumlah dana 30 ribu rupiah. Nasrulloh menambahkan seperti dilaporkan Reporter MQ FM -Tria Haidar-, pelaksanaan kampanye terbuka 16 Maret hingga 5 April mendatang, akan diawali dengan konvoi bersama seluruh partai peserta pemilu dengan menggunakan kendaraan roda empat. Konvoi akan dimulai dari Monumen jogja Kembali hingga alun-alun utara pada pukul 14 sampai dengan 16.30 WIB. Selain itu akan digelar juga deklarasi kampanye bersama pada pukul 15 WIB. Tria Haidar 


Sidang Marwoto Komar kembali digelar

Rabu, 11 Maret 2009, 12:15

Sidang Marwoto Komar kembali digelar

Sahabat MQ, persidangan kasus kecelakaan pesawat garuda G200 di Yogyakarta pada 7 Maret 2007  yang melibatkan -Muhammad Marwoto bin Komar atau Marwoto Komar sebagai terdakwa, kembali digelar di Pengadilan Negeri Sleman Selasa (10/11) kemarin. Sidang tersebut dipimpin oleh Ketua Majlis Hakim –Sri Andini, dengan didampingi empat anggota majelis hakim. Dalam persidangan kali ini terdakwa pilot Marwoto Komar dan tim penasehat hukum –M Ashegaf cs, membacakan pledoi atau surat pembelaan terhadap terdakwa. Dalam pembelaannya tim penasehat hukum terdakwa mengatakan, pihaknya tidak setuju dengan kesimpulan jaksa penuntut umum yang menyebutkan bahwa terdakwa terbukti bersalah sebagai pilot karena telah lalai dalam menerbangkan pesawat, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan rusaknya pesawat.

Dilaporkan reporter MQFM Tria Haidar tim pembela Marwoto Komar menegaskan, pasca pembacaan surat dakwaan oleh jaksa penuntut umum pada awal persidangan sebelumnya pihaknya telah mengajukan nota keberatanatau esepsi atas dakwaan tersebut. Namun demikian Majlis hakim telah menolak esepsi tersebut. Kini setelah pemeriksaan terhadap terdakwa dan saksi-saksi selesai, tim penasehat hukum meminta agar esepsi dipertimbangkan kembali. Pasalnya dakwaan tersebut cenderung dipaksakan, sehingga dinilai memberatkan terdakwa. Persidangan ini nantinya akan kembali digelar pada 19 Maret mendatang, dengan agenda pembacaan tanggapan Jaksa Penuntut Umum. Tria Haidar

Aparat tindak tegas pengacau pemilu

Rabu, 10 Maret 2009, 11:20

Aparat tindak tegas pengacau pemilu

Sahabat MQ, polisi siap bertindak tegas dalam pengaman pemilihan umum mendatang. Wakapolda DIY –Anwaruddin mengatakan, polisi tidak segan menembak pelaku anarkis di dalam pelaksanaan pemilu dengan memakai peluru karet untuk melumpuhkan pelaku.Anwarudin menjelaskan, masing-masing pasukan pengamanan pemilu telah dibekali dengan sniper. Dalam pengaman pemilu mendatang, POLDA DIY telah menyiagakan sekitar 6 ribu personil. Keseluruhan personil tersebut nantinya akan disebar ditingkat Polsek, Polres, dan Polda. Menurut Anwarudin, pihaknya akan melipatgandakan jumlah personil kepolisian, pada lokasi-lokasi yang dianggap rawan.

Kondisi kerawanan pemilu sendiri diperkirakan akan terjadi pada saat kampanye terbuka terbuka digelar. Kawasan perkotaan yang memiliki basis massa, nantinya akan menjadi perhatian petugas keamanan.  Anwarudidin mengaskan seperti dilaporkan Reporter MQFM Izan El Hakim, seluruh petugas kepolisian telah memiliki tugas masing-masing diantaranya adalah pengamanan di Tempat Pemungutan Suara juga lokasi-lokasi lain yang dianggap perlu pengamanan. Izan el Hakim

Seluruh Partai telah laporkan rekeninganya ke KPUD Sleman

Seluruh Partai telah laporkan rekeninganya ke KPUD Sleman

Sahabat MQ, batas akhir pelaporan rekening dana kampanye partai politik peserta Pemilu di KPUD Sleman, telah berakhir 9 Maret 2009 kemarin. Divisi Hukum Pengawasan dan Hubungan antar Lembaga KPUD Sleman –Nuning mengatakan, 35 partai politik peserta pemilu telah melaporkan rekeningnya, kecuali 3 parpol yang tidak memiliki calon Legislatif di kabupaten Sleman. Ketiga partai tersebut adalah PPIB, Partai Kedaulatan dan PPDI. Berdasarkan data yang tercatat di KPUD Sleman, terdapat empat parpol yang memiliki dana kampanye. Mereka adalah PKDI dengan total dana 3,65 juta rupiah, PPP dan PKS masing –masing 2 juta rupiah, dan PPRN dengan nominal satu juta rupiah. Reporter MQFM -Tria Haidar melaporkan, beberapa partai lainnya rata-rata hanya memiliki dana ratusan ribu rupiah. Bahkan terdapat pula sejumlah parpol yang hanya memiliki dana lima puluh ribu rupiah. Tri Haidar



Editorial MQ 92,3 FM Jogjakarta


Editorial MQ 92,3 FM Jogjakarta
Edisi Selasa, 10 Maret 2009
"Menakar Kejujuran Parpol"

Sahabat MQ, Senin 9 Maret 2009 hari ini merupakan waktu terakhir bagi parpol dan caleg DPD peserta Pemilu 2009, untuk menyerahkan laporan rekening dan dana awal kampanye ke KPU. Bukan main-main, parpol yang tak menyerahkan rekening dana kampaye mereka, maka berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 tahun 2009, yang bersangkutan akan dicoret sebagai peserta pemilu. Sementara untuk caleg DPD, yang bersangkutan tidak akan ditetapkan sebagai caleg terpilih.

Namun demikian sahabat MQ, kendati seluruh partai politik peserta pemilu telah menyerahkan rekening khusus dana kampanye dan laporan dana awal kampanye, tetapi mayoritas laporan yang diserahkan tidak lengkap. Kepala Bagian Administrasi Hukum Komisi Pemilihan Umum -Ahmad Fayumi- mengatakan, rata-rata parpol tidak mencantumkan rincian sumber dana kampanye. Padahal, sebagaimana disebutkan dalam peraturan KPU, pelaporan rekening dana kampanye dan dana awal kampanye, harus menyertakan rincian sumber dana. Parpol diharuskan mencantumkan nama dan alamat penyumbang juga menyertakan Nomor Penduduk Wajib Pajak, bagi penyumbang dana kampanye di atas nilai 20 juta rupiah. 

Sahabat MQ, kendati kesempatan untuk menyerahkan laporan awal dana kampanye telah cukup panjang yaitu sejak dimulainya masa Kampanye pada Juli 2008 lalu, namun ternyata hingga batas akhir waktu penyerahan, masih terdapat banyak kekurangan. Parpol masih saja memanfaatkan moment-moment last time dari tenggat yang ditetapkan KPU. Agak mencurigakan memang, parpol tak mampu melaporkan secara lengkap rekening dana kampanye mereka. Padahal, masa kampanye telah berjalan begitu lama. Situasi ini, jelas memancing kecurigaan. Sebenarnya, ada apa dengan partai-partai politik tersebut?. Adakah aliran dana yang tak semestinya dalam sumber dana kampanye mereka?. Benarkah memang ada yang disembunyikan, sehingga parpol seolah tampak begitu takut dan kerepotan, untuk melaporkan dari mana saja mereka mendapat suntikan dana untuk berkampanye?. 

Sebelumnya, kita ketahui sejumlah partai politik mengaku merasa keberatan dengan ketentuan penyerahan rekening dana kampanye partai politik oleh Komisi Pemilihan Umum. Mereka mengeluhkan rumitnya persyaratan yang harus dipenuhi, untuk membuka rekening bank. Selain karena sosialisasi dari KPU yang mepet, sejumlah parpol juga menilai tindakan pelaporan dan audit rekening dana kampanye ini sebagai satu tindakan yang berlebihan.

Sahabat MQ, Pasca putusan Mahkamah Konstitusi mengenai suara terbanyak, aturan tentang kewajiban partai politik dan calon anggota Dewan Perwakilan Daerah untuk melaporkan dana kampanye diyakini tidak lagi memiliki dampak berarti. Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia Ray Rangkuti menilai, pasca putusan MK tersebut justru calon legislatif lah yang sekarang berperan besar mengeluarkan dana untuk berkampanye. Sehingga seharusnya, perkara kewajiban melaporkan dana kampanye dapat lebih rinci. Termasuk dengan memasukkan laporan penggunaan dana kampanye seluruh caleg di satu parpol. Dengan demikian, kejujuran setiap caleg baik soal besaran, sumber, sekaligus "kehalalan" dana kampanye, dapat terawasi dengan baik.

Keraguan akan efektifitas dari ketentuan pelaporan rekening dana kampanye ini, juga diungkap mantan Koordinator Nasional Komite Pemilih Indonesia -Jeirry Sumampow-. Jeirry bahkan memastikan, laporan dana kampanye yang diberikan ke Komisi Pemilihan Umum banyak tidak rasional dan realistis. Parpol cenderung akan melaporkan dana kampanye sekadar formalitas, dan hanya untuk memenuhi ketentuan Undang-Undang. Menakar kejujuran Partai Politik melalui ketentuan ini, akan sangat sulit.

Sahabat MQ, banyak sekali masalah yang belum terselesaikan, padahal pemilu tinggal 30 hari lagi. Meski dinilai belum efektif, namun ketentuan pelaporan rekening dana kampanye ini, bisa diapresiasi sebagai sebuah langkah awal untuk menuju pemilu bersih dan jujur, serta diharapkan mampu menjadi awal munculnya budaya transparansi dalam dunia politik. Berharap awalan kecil ini, dapat menghantarkan wakil-wakil rakyat dan pemimpin-pemimpin masa depan yang berkualitas dan patut diandalkan!!!.

Walloohu a’lam bishshowwaabb


Editorial MQ 92,3 FM Jogjakarta

Editorial MQ 92,3 FM Jogjakarta
Edisi Senin, 9 Maret 2009
“Agar Peringatan Maulid Nabi, Lebih Berarti“

Sahabat MQ, hampir setiap tahun, umat muslim di Indonesia memperingati kelahiran Rasullah Muhammad saw. Berbagai perhelatan diselenggarakan dengan semarak, mulai dari level komunitas kecil di pedesaan, hingga perhelatan nasional, yang menghabiskan anggaran milyaran rupiah. Hampir tidak pernah tertinggal pelaksanaan tradisi membaca shalawat “Barjanji’, yang berisi puji-pujian dan sejarah hidup Sang Rasullah junjungan. Atau bahkan berbagai agenda “modern”, yang bertajuk refleksi kehidupan Rasullah, sang pemimpin teladan. Apalagi di Kota kita Yogyakarta. Perayaan Grebeg Maulud yang telah menjadi tradisi, selalu dibanjiri warga Yogyakarta. Hebatnya, hanya di Indonesia saja perayaan kelahiran Nabi Muhammad ini dilakukan. Bahkan,ia tidak dilakukan di negeri tempat kelahiran baginda Rasullah.

Namun sayang sahabat MQ, umat cenderung terjebak dalam seremonial simbolik, bahkan cenderung berlebihan, hingga melupakan esensi dari memperingati lahirnya Rasululloh Muhammad SAW. Bahkan ironisnya, tidak jarang terjadi penyesatan dalam peringatan maulid, yang justru mengarah pada pendangkalan aqidah dengan pengkultusan, hingga kepada kesyirikan. Niatan mulia untuk kembali merenungi sejarah perjalanan Rasululloh ini, terkadang menjadi ternoda. Tujuan baik dari perayaan Maulid Nabi ini kerap kehilangan orientasi, dan tidak berhasil menguntai hikmah dari perjalanan kehidupan Rasullah tercinta.

Rasullah sebagai manusia biasa utusan Allah, lahir dengan membawa harapan baru. Ia membawa pesan untuk bangkit dari keterpurukan penghambaan terhadap nafsu menuju kehidupan yang lebih baik, dengan hanya menghambakan diri pada Allah Yang Maha Esa. Meneladani Rasululloh yang setiap perilakunya adalah ibarat Al Qur’an yang hidup, dapat menjadi panduan untuk kita dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat kelak.


Sahabat MQ, ditengah keterpurukan bangsa, momentum maulid nabi sangatlah tepat menjadi titik tolak dan refleksi bagi setiap individu dan bangsa. Teladanilah Beliau SAW, yang berhasil menjadi pemimpin agama, negara, dan rumah tangga. Beliau yang memulai risalah kenabian, dengan langkah awal memperbaiki akhlak. Rasullah sebagai seorang pemimpin, mengawali sebuah perubahan besar dari dalam diri sendiri, dan membangun keteladanan dalam lingkup kepemimpinan terkecil dalam rumah tangga.

Sabat MQ, setiap kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertangungjawaban. Rasullah, telah mengajarkan kunci kepemimpinan adalah keteladanan dari lingkungan terdekat, hingga masyarakat luas. Rasullah hadir tidak hanya menjadi rahmat bagi umatnya yang beriman, namun juga seluruh manusia dan seluruh mahkluk penghuni alam semesta. Lantas cukupkah kekaguman kita hanya berakhir pada sebuah seremonial, tanpa sebuah upaya mentranformasikannya dalam kehidupan nyata?.

Sebagai umat yang beriman Sahabat MQ, kita telah mengakui Muhammad SAW sebagai utusan Allah dan teladan kita. Namun sudahkah kita meneledani semangat, kepemimpinan, akhlak serta kegigihan berkarya dengan tetap memurnikan keikhlasan karena Allah?. Dapatkah kita bersinergi dalam memperbaiki dan membangun umat menuju Islam sebagai rahmat bagi semesta alam?. Akankah kejayaan Islam yang kita harapkan hadir, jika maulid nabi hanya tengelam dalam seremonial semata?. Wallahua’alam Bishowab -ali-