Editorial MQ 92,3 FM Jogjakarta

Editorial MQ 92,3 FM Jogjakarta
Edisi Senin, 9 Maret 2009
“Agar Peringatan Maulid Nabi, Lebih Berarti“

Sahabat MQ, hampir setiap tahun, umat muslim di Indonesia memperingati kelahiran Rasullah Muhammad saw. Berbagai perhelatan diselenggarakan dengan semarak, mulai dari level komunitas kecil di pedesaan, hingga perhelatan nasional, yang menghabiskan anggaran milyaran rupiah. Hampir tidak pernah tertinggal pelaksanaan tradisi membaca shalawat “Barjanji’, yang berisi puji-pujian dan sejarah hidup Sang Rasullah junjungan. Atau bahkan berbagai agenda “modern”, yang bertajuk refleksi kehidupan Rasullah, sang pemimpin teladan. Apalagi di Kota kita Yogyakarta. Perayaan Grebeg Maulud yang telah menjadi tradisi, selalu dibanjiri warga Yogyakarta. Hebatnya, hanya di Indonesia saja perayaan kelahiran Nabi Muhammad ini dilakukan. Bahkan,ia tidak dilakukan di negeri tempat kelahiran baginda Rasullah.

Namun sayang sahabat MQ, umat cenderung terjebak dalam seremonial simbolik, bahkan cenderung berlebihan, hingga melupakan esensi dari memperingati lahirnya Rasululloh Muhammad SAW. Bahkan ironisnya, tidak jarang terjadi penyesatan dalam peringatan maulid, yang justru mengarah pada pendangkalan aqidah dengan pengkultusan, hingga kepada kesyirikan. Niatan mulia untuk kembali merenungi sejarah perjalanan Rasululloh ini, terkadang menjadi ternoda. Tujuan baik dari perayaan Maulid Nabi ini kerap kehilangan orientasi, dan tidak berhasil menguntai hikmah dari perjalanan kehidupan Rasullah tercinta.

Rasullah sebagai manusia biasa utusan Allah, lahir dengan membawa harapan baru. Ia membawa pesan untuk bangkit dari keterpurukan penghambaan terhadap nafsu menuju kehidupan yang lebih baik, dengan hanya menghambakan diri pada Allah Yang Maha Esa. Meneladani Rasululloh yang setiap perilakunya adalah ibarat Al Qur’an yang hidup, dapat menjadi panduan untuk kita dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat kelak.


Sahabat MQ, ditengah keterpurukan bangsa, momentum maulid nabi sangatlah tepat menjadi titik tolak dan refleksi bagi setiap individu dan bangsa. Teladanilah Beliau SAW, yang berhasil menjadi pemimpin agama, negara, dan rumah tangga. Beliau yang memulai risalah kenabian, dengan langkah awal memperbaiki akhlak. Rasullah sebagai seorang pemimpin, mengawali sebuah perubahan besar dari dalam diri sendiri, dan membangun keteladanan dalam lingkup kepemimpinan terkecil dalam rumah tangga.

Sabat MQ, setiap kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertangungjawaban. Rasullah, telah mengajarkan kunci kepemimpinan adalah keteladanan dari lingkungan terdekat, hingga masyarakat luas. Rasullah hadir tidak hanya menjadi rahmat bagi umatnya yang beriman, namun juga seluruh manusia dan seluruh mahkluk penghuni alam semesta. Lantas cukupkah kekaguman kita hanya berakhir pada sebuah seremonial, tanpa sebuah upaya mentranformasikannya dalam kehidupan nyata?.

Sebagai umat yang beriman Sahabat MQ, kita telah mengakui Muhammad SAW sebagai utusan Allah dan teladan kita. Namun sudahkah kita meneledani semangat, kepemimpinan, akhlak serta kegigihan berkarya dengan tetap memurnikan keikhlasan karena Allah?. Dapatkah kita bersinergi dalam memperbaiki dan membangun umat menuju Islam sebagai rahmat bagi semesta alam?. Akankah kejayaan Islam yang kita harapkan hadir, jika maulid nabi hanya tengelam dalam seremonial semata?. Wallahua’alam Bishowab -ali-

2 komentar:

  1. weee...eee...eee...
    judul dirubah ya ukhti admin
    but no problem lah
    make it better
    keep ikhlas n istimomah on dakwah
    please up load every day

    BalasHapus
  2. iya mbok upload every day..ditunggu pokoknya...

    BalasHapus