Editorial MQ 92,3 FM Jogjakarta

Edisi Rabu, 21 Mei 2009

Memulai Langkah Kebangkitan Negeri

Sahabat MQ, 21 Mei begitu identik dengan moment kebangkitan nasional. Hari ini, di kurun ratusan tahun yang lalu, berawal dari keprihatinan terhadap nasib bangsa Indonesia yang terjajah, tiga orang pemuda Indonesia mendirikan sebuah organisasi pergerakan, dengan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Satu gerakan kebangkitan yang selanjutnya diberi nama Budi utomo. Organisasi yang didirikan oleh dokter Wahidin Sudiro Husodo, Douwes Dekker, dan dokter Sutomo tersebut diklaim sebagai awal kebangkitan nasional. Dimana semangat persatuan kesatuan dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia berhembus. Menyadarkan sebuah bangsa untuk segera bangkit dan bangun, setelah tertidur selama 350 tahun penjajahan.

Sahabat MQ, kali ini kita ingin mencoba menarik semangat itu ke jaman dimana hari ini kita berdiri. Mari edarkan mata untuk menatap dan merenungi, masih adakah ruh kebangkitan itu dalam hal pendidikan, ekonomi dan kepemimpinan?. Karena toh selama ini, rakyat justru semakin terlibas ganasnya system ekonomi yang diterapkan pemimpin bangsa. Sedang pendidikan.. hari ini menjadi begitu jauh dan tak terjangkau bagi 60 persen penduduk miskin di Negara kita. Tak jauh beda pula dalam hal kepemimpinan. Figur-figur udzur.. kini telah sesak memadati ruang-ruang parlemen,eksekutif dan hampir segala dimensi perpolitikan tanah air.

Lalu dimana anak muda? Ah..Anak muda… hari ini mereka begitu lemah. Mereka masih malu-malu takut dan hanya berani muncul dari balik ketiak kalangan tua yang jauh dari kekritisan, bahkan lebih dekat pada kemalasan dan keputusanaan. Mereka diam dan merasa cukup berbangga diri, dengan menjadi asisten-asisten dan tangan kanan mereka. Gemuruh lantang suara pemuda dalam menyuarakan perubahan ratusan tahun lalu itu, hari ini begitu sepi dan lengang. Apalagi kalau kita bicara tokoh atau figure yang layak untuk diteladani. Ah…kalau boleh jujur, bukankah begitu sulit mencari pemimpin idaman yang patut untuk kita contoh dan teladani kiprah dan perjalanan perjuangannya. Heroisme pahlawan itu..kini benar-benar murni hanya menjadi bagian dari sejarah yang hanya tepat untuk dikenang.

Sahabat MQ, Pemuda Indonesia saat ini telah kehilangan semangatnya. Sumpah 1 bangsa satu tanah air dan satu bahasa itu kini telah luntur dan ternoda. Mereka sibuk mempermasalahkan berbagai perbedaan yang ada, dan tenggelam dalam keegoisan diri sendiri dan golongan. Mereka tak sadar tengah didikte dan dikendalikan oleh tangan-tangan penjajah dalam wajah baru. Moment kebangkitan nasional, bahkan hanya menjadi semangat yang semu. Belum ada kebangkitan yang mendasar di berbagai bidang semenjak kemerdekaan diraih. Semua berjalan pelan, terkesan hanya apa adanya,bahkan mungkin makin mundur dan terpuruk.


Namun apapaun itu sahabat, mari tepis pesimisme itu. Mari buang jauh-jauh keluh kesah itu. Tak boleh lagi kita hanya terdiam nanar menatap masa depan negeri yang memang terasa makin muram. Sebaliknya, kita harus bangkit melanjutkan perjuangan untuk mewujudkan cita-cita Indonesia yang merdeka secara pendidikan, merdeka secara ekonomi, sosial dan politik. Jika kita semua sadar akan tugas kita sebagai anak bangsa, serta peduli terhadap situasi bangsa yang kian meprihatinkan ini, tentu api semangat kesatuan dan persatuan yang dulu pernah mengusir para penjajah akan kembali menyala dan berkobar. Dan jika hal itu terwujud, tentu cita-cita bangsa Indonesia akan dengan mudah segera terwujud. Wallahu'alam bisowwab (Tisha-Anis)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar