Editorial MQ 92.3 FM Yogyakarta
Rabu, 11 Maret 2009
“Mengadu” Nyali Caleg Kalangan Bawah
Rabu, 11 Maret 2009
“Mengadu” Nyali Caleg Kalangan Bawah
Sahabat MQ, Banyaknya partai politik yang bertarung dalam pemilu nanti, seolah telah membuka peluang ‘pekerjaan baru’ bagi beberapa masyarakat. Diperparah dengan system suara terbanyak, Pemilu 2009 telah dijadikan industri penghasil caleg, lantaran partai politik dikejar dengan syarat pemenuhan jumlah caleg. Perekrutan caleg, terkesan tidak memperhatikan mutu caleg. Asal caleg tersebut mempunyai banyak pendukung, berkemauan tinggi, maka siapapun dapat dicomot partai dan maju melenggang mencalonkan diri sebagai calon anggota legislative. Tak pelak, tidak hanya selebritis, tapi kalangan menengah bawah seperti tukang becak, tukang ojek, mantan petinju, bahkan tukang pijat, yang notabene tidak memiliki pengalaman politik. Dengan pendidikan yang minim, mereka pun berlomba-lomba mewujudkan mimpi berkantor di senayan.
--
Di sisi lain Sahabat MQ, mungkin ini adalah wujud keletihan dari kalangan Grass root, kalangan akar rumput, dalam menantikan perubahan. Ini adalah wujud “pemberontakan”, usai para anggota dewan yang saat ini duduk di parlemen yang ternyata tidak mendengar teriakan mereka. Ini juga bentuk tawaran konkret dari masyarakat yang selama ini tersisihkan kepada para pejabat senayan, yang dinilai tidak mempunyai empati untuk ikut merasakan kesengsaraan mereka selama ini. Perbaikan dan Perubahan, dua jargon ini yang kemudian mereka usung, setelah sekian lama merindukan perubahan ke arah perbaikan.
Di sisi lain Sahabat MQ, mungkin ini adalah wujud keletihan dari kalangan Grass root, kalangan akar rumput, dalam menantikan perubahan. Ini adalah wujud “pemberontakan”, usai para anggota dewan yang saat ini duduk di parlemen yang ternyata tidak mendengar teriakan mereka. Ini juga bentuk tawaran konkret dari masyarakat yang selama ini tersisihkan kepada para pejabat senayan, yang dinilai tidak mempunyai empati untuk ikut merasakan kesengsaraan mereka selama ini. Perbaikan dan Perubahan, dua jargon ini yang kemudian mereka usung, setelah sekian lama merindukan perubahan ke arah perbaikan.
--
Atas dasar ‘kesengsaraan’, mereka bertekad “berani” bertarung dengan caleg yang berasal dari menengah keatas, untuk merubah nasib diri mereka juga kawan sependeritaan. Tekad kuat dan kepercayaan diri akan kemenangan yang diperoleh, membuat mereka tidak takut bersaing dengan caleg yang bermodal. Tak perlu memampang wajah dengan ukuran besar dan pose disana-sini. Cukup dengan pamlet, striker dengan wajah borongan para caleg ditambah dengan kedekatan hati kepada para pendukung, caleg-caleg ini terus melaju.
Atas dasar ‘kesengsaraan’, mereka bertekad “berani” bertarung dengan caleg yang berasal dari menengah keatas, untuk merubah nasib diri mereka juga kawan sependeritaan. Tekad kuat dan kepercayaan diri akan kemenangan yang diperoleh, membuat mereka tidak takut bersaing dengan caleg yang bermodal. Tak perlu memampang wajah dengan ukuran besar dan pose disana-sini. Cukup dengan pamlet, striker dengan wajah borongan para caleg ditambah dengan kedekatan hati kepada para pendukung, caleg-caleg ini terus melaju.
--
Mencalonkan diri menjadi anggota legislative adalah hak warga negara. Namun demikian, butuh waktu panjang dan pengorganisasian yang jelas, untuk dapat mendidik caleg-caleg ini. Disinilah, Parpol dituntut untuk dapat berlaku lebih bijak dan tidak sembarangan. Merekrut dan mengajukan caleg kalangan bawah dengan tidak memperhatikan syarat kualitas caleg, berarti secara tidak langsung telah ancang-ancang menciptakan peluang, kondisi daerah dan bangsa terpuruk. Memasang orang-orang tak berkompeten untuk dipilih pada pemilu mendatang, berarti telah bersiap membuat perjalanan bangsa ini ke depan, semakin tertatih-tatih.
--
Maraknya calon anggota legislative dari kalangan bawah ini, mengundang reaksi dari beragam kalangan. Maklum, moment pemilu sebagai satu sarana untuk memilih para wakil rakyat, tak boleh dijadikan ajang permainan dan coba-coba. Sehingga, kita dituntut untuk tidak sembrono menjalankannya. Mungkin tidak berlebihan memang kegelisahan yang diungkap Pengamat Sosial –Eko Prasetyo- menghadapi fenomena ini. Menghidupi dan memperjuangkan diri mereka sendiri saja mereka kesulitan, apalagi untuk memperjuangkan jutaan kepala masyarakat Indonesia yang ia wakili kelak?.
Maraknya calon anggota legislative dari kalangan bawah ini, mengundang reaksi dari beragam kalangan. Maklum, moment pemilu sebagai satu sarana untuk memilih para wakil rakyat, tak boleh dijadikan ajang permainan dan coba-coba. Sehingga, kita dituntut untuk tidak sembrono menjalankannya. Mungkin tidak berlebihan memang kegelisahan yang diungkap Pengamat Sosial –Eko Prasetyo- menghadapi fenomena ini. Menghidupi dan memperjuangkan diri mereka sendiri saja mereka kesulitan, apalagi untuk memperjuangkan jutaan kepala masyarakat Indonesia yang ia wakili kelak?.
--
Bukan hendak meremehkan ataupun menganggap kecil caleg yang berasal dari kalangan bawah. Akan tetapi, berjihad di Senayan memang tak semudah yang dibayangkan. Gelombang godaan disana pun begitu besar. Untuk itulah diperlukan pribadi-pribadi yang berkualitas, untuk dapat menaklukkannya. Dengan menimbang situasi inilah sahabat MQ, masalah syarat kualitas caleg menjadi begitu utama. Semoga saja, pencalegan dalam pemilu bukan sebagai kesempatan mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih layak. Namun, memang karena didasari niat dan tekad ingin menyuarakan dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Untuk para caleg, ingatlah akan beratnya amanah yang akan diemban, juga pertanggung jawaban yang kelak akan dipikul. Wolloohu a’lam bisshowabb (waf, ed.-ta)

