Pemilu 2009 sebagai Rotasi Akhir Elit Politik Generasi '40-an


Jum'at, 13 Maret 2009, 12:20

Pemilu 2009 sebagai Rotasi Akhir Elit Politik Generasi '40-an

Pemilu 2009 sering disebut sebagai rotasi paling akhir  dari elit politik generasi tahun '40-an. Pengamat Politik UGM -Sigit Pamungkas mengatakan, generasi tersebut antara lain Sri Sultan hamangkubuwo X, Akbar Tanjung, Megawati, SBY, Jusuf Kalla, serta Prabowo. Sigit mempredikisi, tokoh-tokoh tersebut tidak mungkin lagi berkompetisi pada Pemilu 2014 mendatang. Dalam diskusi panel ‘Satu Suara Berjuta makna’ di UGM Sigit mengungkapkan/ sebagai proses politik, pemilu merupakan proses untuk menuju perubahan. Untuk itu masyarakat sebagai pemilih hendaknya memilih calon pemimpin yang dapat membawa perubahan bagi masyarakat Indonesia. Terkait hal tersebut seperti dilaporkan reporter MQFM-Tria Haidar -Sigit menambahkan, golput bukan pilihan yang tepat untuk saat ini. Gerakan Golput, dipastikan tidak akan mempu membawa perubahan yang diharapkan. Tria Haidar

Banyak Caleg Tidak Memahami Cara Penandaan Surat Suara

Banyak Caleg Tidak Memahami Cara Penandaan Surat Suara
Sahabat MQ, meski cara penandaan surat suara telah disosialisasikan KPU melalui media masa,  namun kenyataannya banyak calon legislatif yang belum memahaminya. Hal tersebut terbukti dengan banyaknya pertanyaan, terkait cara penandaan surat suara yang sah dari para caleg kepada anggota KPU Sleman, dalam sosialisasi dengan Dapil 1 di KPUD Sleman. Divisi Sosialisasi Pendidikan Pemilih dan Humas KPUD Sleman -Miswan menjelaskan, adanya perubahan peraturan tentang tatacara dan perhitungan suara pada tahun ini menyebabkan caleg bingung untuk mensosialisasikan ke masyarakat. Sementara berkenaan dengan adanya Perpu, Miswan menjelaskan bahwa tujuan adanya Perpu adalah mencegah masyarakat tidak gugur dalam Pemilu mendatang. Meski seperti dilaporkan Reporter MQ FM -Tria Haidar- Miswan mengakui, aturan pemilu yang berubah-ubah menyulitkan masyarakat dalam menyuarakan pilihannya pada Pemilu 2009 ini. Tria Haidar